Tidak
seperti kota-kota lainnya, di kota ini kutemukan diriku menjadi hijau.
Lumut-lumut yang melekat bertumbuh menjadi nyanyian-nyanyian malaikat.
Di kota ini, aku bisa melihat matahari bermekaran. Kuntum-kuntumnya
bergerak lembut membiaskan kehangatan. Aku bahkan dapat memetik matahari
tanpa harus kurasakan panasnya yang menyengat, seperti di kota-kota
lain.
Bulan
di kota ini juga ternyata lebih indah dari yang pernah kubayangkan.
Warnanya perak dengan tepinya sedikit jingga. Cahayanya lembut menerangi
dengan selaksa kesejukan. Aromanya wangi menyemarakkan bunga-bunga
bertangkai petir yang tumbuh di setiap pori-pori waktu.
Aku bahkan pernah menjadi bagian dari sinarnya. Kurasakan sebuah kesejukan yang teramat sangat mendekap
seluruh kesadaranku. Sungguh, aku menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu
yang selama ini tak pernah terbayangkan akan melingkupi diriku begitu
cepat, hingga aku sendiri begitu sulit mempercayainya.
Di
kota ini aku ternyata bisa menjadi malaikat bahkan melebihi malaikat.
Aku menari mengikuti segala arah angin, membelai setiap yang kusapa,
mengusap dengan jemariku yang lembut. Aku
lantas menjelma buih-buih di pantai mengiringi riak-riak ombak yang
bergoyang kadang mengganas. Burung-burung camar sesekali meningkahi
dengan menukik dan mencecah permukaannya melahirkan suara-suara rindu.
Cekikikan burung-burung itu membawa keriangan tersendiri yang berbeda
dengan kota-kota lain. Sungguh, aku bisa merasakannya.
Memasuki
kota ini, aku juga menjelma kunang-kunang. Aku beterbangan kian kemari
dengan riangnya. Tak peduli dengan apa pun yang ada di sekitarku.
Sayap-sayapku begitu ringan menghalau angin, menepiskannya hingga
membuatku terangkat tinggi dan melayang ke angkasa.
Di
kota ini aku tak lagi menemukan kegelapan. Cahaya-cahaya muncul dari
dalam diriku, membias pada setiap titik-titik ruang dan waktu yang
kujalani. Aku menyaksikan tubuhku meningkahi kegelapan dengan riangnya,
hingga pekat menjelma menjadi terang.
Menemukan
kota ini merupakan sebuah anugerah yang maha dahsyat dan tak akan
mungkin terhapus dari totalitas kedirianku. Aku tak akan mungkin
melupakan penjalanan ini. Melupakannya berarti juga melupakan ruh yang
ada dalam diriku. Di kota inilah bermacam keindahan tumbuh, menjalar
menelusuri setiap hitungan waktu yang telah kurengut sekian lama.
Kota
ini menjadikanku begitu berarti. Kesengsaraan selama menjalani
kehidupan, seperti tak ada artinya ketika menyadari keberadaan kota ini.
Semuanya sirna ketika memasuki dan berumah di kota ini. Kota ini
seperti mendekap kenikmatan dan meletakkannya dengan hikmat pada setiap
titik ruang dan waktu dari perjalanan hidupku.
Memasuki
kota ini membuatku merasakan kenikmatan yang luar biasa. Aku larut dan
rela dialirkan ke mana saja dalam kota ini. Aku tak takut. Aku malah
bergembira dapat berenang dan mengalir lembut dalam kota ini. Kota yang
telah mengajariku tujuan dari setiap tarikan nafasku; tujuan dari setiap
gerak tubuhku; tujuan dari setiap gerak jiwaku.
Ah,
di kota ini kebahagiaan tumbuh dimana-mana dan menjalar memasuki setiap
rongga perjalanan kehidupanku. Aku sungguh merasakannya; gerak
lembutnya menjalari kemanusiaanku; gerak lembutnya menyapa; membelai;
melelapkanku dalam ketulusan.
***
Sungguh,
kurasakan begitu banyak yang runtuh dalam diriku sebelum menemukan kota
ini. Di sini, aku ingin memburu dan menghapus titik-titik hitam waktu
yang telah aku semai sendiri dalam perjalanan hidupku. Memburu masa-masa
purba yang kusam dan gelap untuk kutaburi cahaya-cahaya.
Ingin
kubangun kota ini, setelah sekian lama runtuh; puing-puingnya
berserakan menutupi jejak-jejak. Serpihan-serpihan kota ini kupungut
satu demi satu. Tangan-tanganku menjulur ke langit, gemetar, memintal
satu demi satu puing-puing dan debu-debunya yang beterbangan di langit
kelam.
Namun
entah mengapa, aku merasakan tak akan sanggup lagi membangun dan
membuatnya sebagai kota yang indah, seperti ketika aku baru pertama kali
menghirup udara di bumi ini. Tapi aku akan tetap melakukannya. Meski
aku tahu semua itu akan menghabiskan waktuku.
Waktu…?
Bukankah waktuku memang seharusnya kuhabiskan untuk membangun kota ini.
Kota yang dijelmakan oleh zat yang maha agung untuk memberikan cahaya
pada siapa saja. Kota yang dibangun untuk menuntun hidup setiap
tubuh-tubuh yang di dalamnya bersemayam ruh. Tubuh-tubuh yang tumbuh
dari tanah. Ya… tanah yang kotor.
Membangun
kota ini, seperti merancang kembali kehidupan baru bahkan jauh lebih
sulit. Kertas putih yang penuh noktah hitam, sungguh sulit kuputihkan
lagi, walau dengan air mata yang terus mengalir hingga membentuk
sungai-sungai dan menjadi lautan. Tentu, bangunan di kota ini hanya bisa
tumbuh dan menjulur dengan kepingan-kepingan yang mungkin tak akan lagi
bisa menjadi utuh.
Di
kota inilah butiran-butiran air mataku tumpah membentuk sungai-sungai
kecil yang melintasinya. Sungai air mata yang sekian lama keruh dan
berkarat, hingga tak mampu mengalir membangun penyesalan-penyesalan yang
hakiki itu, kini mulai mengalir dengan riangnya.
***
Aku
mencari dan menemukan kembali kota ini setelah sekian lama terkubur
begitu dalam. Kota ini benar-benar telah kehilangan bentuknya. Batu-batu
hitam begitu lama menghujani dan menindihnya dengan keberingasan yang
sungguh tak sanggup lagi kubayangkan.
Aku memang tak mau lagi membayangkannya. Membayangkannya berarti membunuh diriku sendiri sebelum aku sanggup membangunnya kembali. Kalaupun harus membayangkannya,aku hanya menjadikannya sebentuk steksa untuk merancang kembali kota ini.
Ya,
aku ingin merancang kota ini dengan sebuah penyesalan yang utuh dari
segenap penghambaanku. Sebentuk penghambaan yang telah kurancang sekian
lama, namun aku sendiri tak tahu mengapa aku tak sanggup melakukannya.
Entah
mengapa, ketika itu aku benar-benar tak mampu melakukannya. Aku
terjebak dalam lingkaran yang aku sendiri tak tahu dan tak mampu
melepaskan diri darinya. Sebuah lingkaran yang dipenuhi
kesenangan-kesenangan duniawi yang akhirnya membawaku ke dalam sepi.
Ya…
sebentuk sepi yang teramat sepi… sepi yang mencekam… sepi yang
membutakan… sepi yang membuatku pernah ingin membunuh diriku sendiri.
Dalam
kesepian itu, aku terus mencari sujudku… menemukan sujudku. Sujud yang
sekian lama terbelenggu dalam lingkaran hitam itu kini hadir dalam
setiap titik-titik kesadaranku. Lalu kusujudkan diriku pada hampir
setiap sepertiga malam untuk mencari kembali kota ini dan membangunnya
kembali dengan segala penghambaanku.
Begitu
sulitnya mencari sesuatu yang pernah hilang dalam diri. Begitu sulitnya
membangun sesuatu yang pernah hancur dan telah menjadi puing-puing.
Tapi aku harus melakukannya. Harus! Ya, sebuah penghambaan yang kaffah
harus kutunjukkan untuk kembali membangun kota ini. Kota yang penuh
dengan debu, awan hitam dan telah penuh borok bernanah. Kota yang telah
berkarat. Kota dimana malaikat tak mampu lagi hidup dengan damai;
tenang.
“Mungkinkah.”
Tiba-tiba sebuah suara terdengar nyaring di telingaku. Bahkan ketika
itu kurasakan ingin mengoyak-ngoyak gendang telingaku yang fana.
“Adakah
sesuatu yang tak mungkin di dunia ini. Tuhan menjadikan semua yang ada
di dunia ini menjadi mungkin, bahkan untuk menghina Tuhan sekalipun,
manusia diberi kebebasan, kecuali mengubah hukum-hukum yang telah
ditetapkan-Nya. Bukankankah ini anugrah yang maha dahsyat?” Segera
kurancang ketegaranku yang kembali diguncang.
“Tapi apakah engkau sanggup? Rasanya aku meragukannya.”
Entah
dari mana, suara itu kembali menghantam kesadaranku. Sumpah, yang aku
rasakan hanyalah kegelisahan yang menerobos dengan cepat dalam
ruang-ruang keputusanku.
Zilzaal…. Goncangannya teramat hebat. Di sepertiga malam, sujudku pun bergetar. Sajadah tempat air mataku tumpah, menjadi kering; tandus.
“Tuhan dimana Engkau??!!” jeritku tersedak.
“Apakah Kau sudah mati??!!!” Nafasku tersengal. Dadaku seperti ditumpuki beribu-ribu gunung.
“Mengapa aku selalu Kau biarkan terkubur dalam kegelapan?!!” Kukumpulkan potongan-potongan nafasku.
“Bukankah aku tak putus-putusnya mencariMu. Sujud apalagi yang harus kulakukan untuk mendapatkan kembali cahayaMu?” Pemberontakanku mengganas; luka-luka dan berdarah.
“Sujud
apa lagi yang Kau butuhkan? Kau tak membutuhkan sujud. Karena itu, aku
makin yakin aku tak mampu menemukan kota itu, apalagi membangunnya. Kota itu telah kau runtuhkan hingga puing-puingnya sebesar biji dzarrah.”
Suara itu kembali melengking, bahkan mungkin melebihi lengkingan terompet malaikat Izrafil. Aku
kian gelisah. Padahal aku ingin kembali merasakan kesejukan berumah di
kota itu. Tapi mengapa semuanya begitu cepat berlalu. Begitukah manusia?
Begitu cepat berubah, menjelma menjadi sesuatu yang lain dalam waktu
yang senantiasa tak terduga.
Tapi aku harus yakin Tuhan adalah pemberi cahaya kepada
langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Tuhan, adalah seperti sebuah lubang
yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam
kaca dan kaca itu seakan-akan bintang yang bercahaya seperti mutiara.
Aku yakin Tuhan akan membimbing siapa yang dia kehendaki kepada
cahaya-Nya. Cahaya di atas cahaya.
“Dimana lagi kau akan mencari cahaya Tuhan? Bukankah kota yang kau cari telah kau gelapkan sekian lama. Kau
hancurkan semua cahaya, meski cahaya itu kerlipan butiran pasir di
laut.
Di sini tak ada lagi cahaya-cahaya yang ingin menerangi. Kota itu
bertahun-tahun telah gelap gulita. Bukankah kau senang dengan kegelapan? Bukankah itu yang kau cari? Lalu mengapa kau cari cahaya? Untuk apa…?”
“Tidaaaakkkk!!!!”
Suaraku
melengking ke tepi kesadaranku. Aku bahkan tak mengerti lagi akan
diriku. Aku benar-benar tak tahu mengapa keraguan begitu cepat
menggauliku, padahal ketika itu aku baru saja merasakan kesejukan dalam
kota itu. Dan ini selalu saja terjadi dalam diriku. Sebentar kutemukan
diriku tafakur dalam sujud, namun sejenak kemudian aku kembali
terjerebab dan terkapar dalam kubangan lumpur yang hitam pakat.
“Ah,
kotaku. Mengapa aku selalu saja gagal membuatmu dipenuhi cahaya. Dan
kalau pun bisa, mengapa aku tak kuasa untuk mempertahankan cahaya itu.
Mengapa cahaya itu selalu saja begitu cepat redup tatkala kutinggalkan
sajadah tempatku bersujud?”
“Hahahahaha….”
“Hentikaaaaaan…!!!”
Suaraku
terjerembab ke dalam liang yang begitu dalam. Dadaku bergemuruh
menggiring badai. Nafasku terpenggal-penggal menjadi potongan-potongan
rintih. Aku betul-betul tak tahan. Bahkan aku ingin mencaci-maki Tuhan.
Ya… ketika itu aku ingin mencaci-maki Tuhan seenak perutku, sebab
mengapa Dia tak mau memberikanku cahayaNya. Padahal aku telah berjuang
mencari dan meminta cahaya itu untuk kutaburkan di kota yang
diciptakanNya sendiri.
Sungguh,
aku benar-benar ingin memuntahkan semua kekotoran kata-kata. Bukankah
Tuhan menciptakan manusia dengan kebebasan, bahkan untuk mencaci diriNya
sendiri. Dan sebagai manusia aku harus memanfaatkan itu. Aku pun
mencerca Tuhan semauku. Mulutku yang diciptkanNya, kugunakan
sebaik-baiknya untuk mencaci Tuhan. Cacianku memenuhi rongga dadaku,
bahkan menyesakkannya.
Aku
tak mengerti mengapa Tuhan tak memberikan cahayaNya. Bukankah aku
selalu berusaha mencari cahayaNya? Dan ketika kutemukan, mengapa cahaya
itu kadang redup dan kadang benderang. Mengapa Tuhan tak menetapkan
hatiku untuk senantiasa istiqamah pada semua kehendakNya? Mengapa….?
Lalu
aku berulang-ulang memuntahkan cacianku pada Tuhan. Aku merasa Tuhan
tak adil. Aku ingin menetapkan diriku untuk membangun, menjaga dan
menaburi cahaya pada kota dalam diriku, tapi mengapa Tuhan tak mau
memberikannya?
Mengapa mereka yang lain diberikan petunjuk, sedang aku
harus terus berkutat dengan ketidak-istiqamah-an. Aku ingin istiqamah dan kaffah dalam penghambaanku. Tapi mengapa aku tak bisa. Mengapa Tuhan tak membiarkanku istiqamah?
Tapi
tak sanggup. Aku kembali tak mampu mencaci Tuhan. Aku malah kembali
mencucurkan air mata. Aku tahu kehancuran dunia hanyalah kehancuran
fana. Maka sejak kusadari kehadiran kota itu, aku tak akan pernah
berhenti membangun mencari dan membangunnya.
***
Bertahun-tahun
kota ini kutinggalkan. Reruntuhannya masih tersisa. Tapi di sini telah
kutemukan keabadian. Meski aku tahu, di kota ini pernah ada yang
terbakar, menghitam atau mungkin telah mati.
Namun
kota ini akan terus kubangun, walau dengan tangan gemetar dan ujung
lidah terbakar. Aku tak ingin lagi membiarkan kota ini gelap. Akan
kugapai dimana pun cahaya itu ada untuk menerangi kota ini. Akan
kuulurkan tanganku dimana pun butiran itu berserakan dan kususun, meski
dengan tangan dan kaki yang gemetar.
Akan kutiupkan penggal nafasku
dimanapun debu-debu kota ini berterbangan dan kurangkai sebagai perekat.
Akan kulantunkan doa-doa, meski ujung lidahku terbakar dan berdarah.
Bukankah
yang paling mengenali dirinya, berarti yang paling mengenali Tuhannya?
Maka tak henti-henti kutelusuri setiap ruas tubuhku untuk mencari
diriku. Kusingkap-singkap jiwaku untuk membaca kekuasaanNya. Kutelisik
kemanusiaanku untuk menjelajahi hakikat penciptaanku. Lalu kutemukanlah
kota ini, kota yang sesungguhnya bersemayam dalam hatiku; qalbu; Kota
Tuhan. Ok1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar