Kamis, 06 November 2014

Diskusi Kematian

Tubuh Hugh seketika mengejang. Wajahnya memerah dan raut mukanya menegang seperti sedang menahan beban yang maha berat. Tubuhnya terkulai. Hening. Istrinya hanya mampu menatap pasrah. Wanita itu tak mampu menahan keinginan suaminya. Di sebuah rumah tua yang dibangunnya dua puluh tahun lalu, di pinggiran kota Michigan, Hugh telah mengakhiri penderitaannya karena penyakit emphysema, jenis penyakit paru-paru akut, yang telah membuatnya begitu menderita selama bertahun-tahun.
 
Dinding kamar bisu. Udara beku, menyaksikan seorang manusia harus mengakhiri hidupnya dengan tragis. Beberapa lukisan yang terpajang di dalam kamar, sesekali bergoyang tertimpa angin yang menyusup lewat jendela. Suara isak tangis istri Hugh menyeruak kesunyian. 
 
Dr. John, sang penolong eksekusi, hanya menatapnya dengan tabah. Sebenarnya ada kengerian yang terlintas di benaknya. Terlebih tatkala melihat tubuh Hugh menggelepar dan mengejang. Ia juga sebenarnya begitu ngeri menyaksikan wajah Hugh yang menegang dengan warna kemera­han. Dan kebimbangan terkadang menyusupi batinnya saat ia melakukan perkerjaan ini. 
 
Perlahan John melangkah ke tepi pembaringan. Dilepaskannya masker yang menempel di wajah Hugh perlahan. Ia mulai berkemas. Bersama asistennya, John membereskan semua peralatan yang digunakanya melakukan eksekusi terhadap Hugh. Sebuah tabung gas monoksida (CO) yang tidak terlalu besar dan beberapa peralatan lainnya dima­sukkan kembali ke dalam tas yang cukup besar.
 
Istri Hugh masih terdiam memandang suaminya yang sudah tak bernyawa lagi. Air matanya masih berlinang membasahi pipinya yang telah banyak ditumbuhi keriput. Sesekali ia mengusap air matanya perlahan, lantas menarik nafas panjang. Dadanya terasa sesak. Ingin ditumpahkannya semua perasaannya di dada suaminya.
 
Perlahan ia mendekati suaminya. Langkahnya gontai menuju ke tepi pembaringan dan duduk di sisinya. Dengan mesra ia mengusap wajah lelaki tua yang meni­kahinya 30 tahun lalu itu. Perlahan wanita tua itu menciumi wajah suamin­ya yang telah memberikannya seorang anak, yang ketika Hugh harus mengakhiri hidupnya, sengaja tak diberitahu. Hugh memang tak ingin anak satu-satunya itu menyaksikan kepergiannya yang menyedihkan.
 
“Hugh, kau telah menjadi eksekutor bagi dirimu sendiri. Aku tahu mengapa kau berbuat seperti itu. Tapi, apakah penderitaan fisik telah meluluhkan keimananmu. Kau orang yang beragama dan mempercayai Tuhan. Namun, mengapa kau sampai berbuat seperti ini. Aku sebenarnya tak setuju membiarkanmu berbuat begini, meski aku juga tak kuasa menghalangimu. Terlebih jika menyaksikan penderitaan yang telah kau alami sejak penyakit jahanam itu menggerogotui tubuhmu.” Suaranya semakin melemah akibat terbendung oleh isaknya.
 
Wanita tua itu perlahan memeluk tubuh Hugh. Tubuhnya terguncang. Air mata yang mengaliri pipinya menetes membasahi wajah suaminya yang tanpa ekspresi. 
 
“Anda harus tabah menerima kenyataan ini. Semua ini memang kemauan Pak Hugh sendiri. Dia ingin melepaskan semua penderitaan yang selama ini dialaminya. Penyakit itu telah menggerogoti tubuhnya. Ia tak tahan dan akhirnya mengambil keputusan untuk segera mengakhiri hidupnya,” ucap John berusaha menenangkan perempuan tua itu.  
 
John melangkah mendekati nyonya Hugh dan perlahan melepaskan pelukan wanita itu dari tubuh suaminya. 
 
“Nyonya harus merelakan kepergiannya. Ini mungkin bagian perjalanan yang harus ia lalui.” 
 
Dengan perasaan berat, istri Hugh melepaskan pelukannya. Perempuan itu duduk mematung. Sorot matanya yang mengabur akibat air mata masih saja menatap ke arah suaminya. Nafasnya terkadang masih tersengal.
 
Perlahan John meninggalkan kamar. Istri Hugh masih berdiri mematung. Seorang pembantu tergopoh-gopoh memasuki kamar dan terkejut saat menyaksikan majikannya tak bernyawa lagi. 
 
“Kita harus segera menyiapkan prosesi penguburkannya.” 
 
Istri Hugh perlahan menyisih dari tepi ranjang dan melangkah meninggal­kan kamar.
 
***
 
Krinnggg. Krinnggg. Krinnggg.
 
“Halo. Dokter John, ada.”
 
“Saya sendiri.”
 
“Dari Jack. Saya sangat membutuhkan bantuan Anda. Kalau bisa Anda segera datang ke tempat saya di New Jersy.…”
 
“Okey. Saya akan segera berangkat.”
 
“Klaak.”
 
Dokter John meletakkan gagang telepon. Sejenak ia termenung. Matanya mengembara ke sekitar ruang tamu yang dihiasi berbagai lukisan. Gelas di tangannya diletakkan di atas meja yang berada di depannya. Perlahan dia mengheyakkan pantatnya di atas sofa yang empuk. Lama ia terduduk. Begitu berat rasanya ia harus melakukan lagi sesuatu yang banyak ditentang oleh orang. Namun, ia seperti harus menolong orang itu. Pikirannya melayang. Tanpa disadarinya, seorang wanita setengah baya menghampirinya. Ia menatap John dengan wajah kebingungan. 
 
“Ada apa, Pak?”
 
“Baru saja saya menerima telepon. Ada seseorang yang meminta bantuan,” jawabnya sembari mengelah nafas dan membuangnya dengan cepat. Terasa berat. Diraihnya kembali gelas minuman dan meminumnya. Suara tegukan terdengar jelas. 
 
Wajah istrinya seketika berubah murung. Ia sebenarnya begitu berat melepas suaminya untuk melakukan pekerjaan yang sangat bertentangan dengan nuraninya itu. Ia tak ingin suaminya menjadi algojo bagi orang lain. Sudah berulang kali ia memberikan masukan kepada John. Namun, berulang kali pula, ia mendapatkan begitu banyak alasan.
 
John menatap istrinya. Perempuan itu hanya terdiam. Ia tahu gejolak batin suaminya. Namun, ia juga tahu suaminya tak akan bisa menolak. Karena tak mampu lagi berkata apa-apa, dengan wajah cemberut, perempuan itu pun meninggalkan John yang masih terpaku. 
 
John bangkit dari duduknya. Ia meraih gagang telepon dan menghubungi dua asistennya. Tak lama berselang dua orang berpakaian putih-putih memasuki rumah dengan menenteng beberapa tas. Setelah berkemas, mereka lalu melangkah ke luar menuju tempat mobil John diparkir. Sebuah mobil  BMW kelabu metalik pun meluncur ke luar kota. Istri John hanya memandangi suami bersama dua asistennya meninggalkan rumah. Sesak begitu terasa di dadanya. 

***
Kota New Jersey masih gelap. Lampu-lampu jalan seakan berlomba memendarkan cahayanya menerangi kebisingan kota yang masih ramai dengan kendaraan dan lalu-lalang orang-orang dengan kesibukannya masing-masing. Angin kencang bertiup menggoyangkan pohon-pohon yang tumbuh di tepi jalan. 
 
Kendaraan John melaju perlahan menuju rumah Jack di pinggiran kota New Jersey. Di depan sebuah rumah yang cukup besar, perlahan mobil itu berhenti. Di halamannya nampak dua buah mobil terparkir rapi. Setelah memarkir mobilnya di belakang kedua mobil tersebut, John dan kedua asistennya melangkah menyusuri halaman yang cukup luas dan langsung masuk ke dalam rumah.  
 
“Halo. Saya Dr. John. Apa kabar.”
 
“Baik. Silahkan masuk.”
 
“Mr. Jack ada.” 
 
“Tuan sedang menunggu di kamar. Silahkan, mari saya antar.”
 
Dengan cepat mereka melangkah memasuki kamar yang terletak di pojok ruang tamu. Sebuah ruangan yang cukup besar. Di dindingnya hiasan lukisan tergantung rapi. Bunga-bunga dengan berbagai warna terletak di atas dua buah meja, memberikan rasa sejuk orang yang memandangnya. Di atas pembaringan, Jack terkulai ditemani istrinya. Wajahnya sedikit pucat memandang kedatangan Dr John yang berjalan menghampirinya. Namun ia tetap berusaha tersenyum. Begitu berat. 
 
“Selamat malam, Mr Jack. Saya Dr John.”
 
“Selamat malam.” Mr. Jack berusaha bangkit dan bersandar di tepi pembaringan. Tapi tidak bisa. Ia merasa seluruh tubuhnya remuk. 
 
“Boleh saya lihat data-data medisnya...?” 
 
John perlahan mengambil beberapa berkas yang disodorkan padanya. Ia lantas mengamati dengan seksama. Cukup lama. Perlahan ia mengangguk-angguk. 
 
“Anda benar-benar membutuhkan pertolongan?”
 
“Ya. Saya sudah tak tahan dengan penyakit ini.”
 
“Tapi apakah, Anda tidak pernah mencoba cara pengobatan lain?”
 
“Saya sudah mencoba berbagai terapi dan obat-obatan. Dan untuk dioperasi pun sudah tak mungkin. Kata dokter, penyakit ini sudah tak mungkin lagi diobati secara medis.” 
 
“Tapi, apakah Anda sudah yakin dengan jalan yang Anda akan tempuh saat ini. Atau masih ada pertimbangan lain. Bagaimana dengan istri anda?”
 
“Saya sudah pasrah. Saya yakin inilah jalan satu-satunya untuk lepas dari penyakit ini.”
 
“Bisa kita mulai sekarang?”
 
“Saya sudah siap, silahkan.” 
 
“Silahkan berbaring!”
 
Jack perlahan merebahkan tubuhnya. Dr John mengeluarkan tabung gas Karbon Monoksida (CO) dan masker yang berada  di tas yang dibawa kedua asistennya. Ia mendekati Jack dan memasang masker itu ke wajahnya. 
 
“Anda benar-benar sudah siap? Berdoalah.”
 
“Ya. Saya sudah siap.”
 
Perlahan-lahan Dr John memasang masker yang pipanya tersambung langsung dengan tabung gas karbon monoksida dan klep untuk membuka-tutup aliran gas ke wajah Jack. Tangan Jack perlahan memegang klep tabung dan membuka aliran gas.  Tubuhnya menegang dan wajahnya berubah kemerah-merahan. Nafasnya mulai tersengal-sengal. Namun, beberapa saat kemudian ia meronta dan berusaha melepas masker di wajahnya. Tanpa sengaja, Jack memutar klep tutup aliran gas dan juga berhasil membuka masker yang menutupi wajahnya. Nafasnya tersegal-sengal.
 
“Kenapa? Anda  belum siap?” John menatap wajah Jack. 
 
Istrinya memeluk tubuh Jack yang semakin lemah. 
 
“Sudahlah, Pak. Hentikan perbuatan ini. Aku tidak tega melihatmu seperti ini.” Ia melingkarkan tangannya ke tubuh lelaki yang telah kehilangan harapan hidup itu. 
 
Mata Jack menerawan ke langit-langit  kamar. 
 
”Aku harus melakukannya.” 
 
Jack kembali mengambil masker dan memasang sendiri ke wajahnya. Perlahan ia membuka klep tabung. Tubuhnya kembali menegang. Nafasnya kembali tersengal-sengal. Raut wajahnya merah darah dan matanya yang melotot. Tangannya berusaha membuka masker, tapi tak bisa. Tenaganya telah habis. Akhirnya masker baru dapat terlepas dengan bantuan Dr John. Namun, ia sudah tidak sadarkan diri dan segera dilarikan ke rumah sakit. Sayang sebelum sampai di rumah sakit, nyawanya tak dapat tertolong lagi. Jack telah menghembuskan nafas terakhirnya. 
 
Di atas mobil ambulance yang membawa tubuh Jack, Dr John menatap kaku tubuh yang tak lagi  bernyawa di hadapannya. Perasaannya tiba-tiba seakan dicabik-cabik rasa kesedihan dan sesekali penyesalan. Perseteruan nurani begitu hebat mengguncang kesadarannya.

Kamu telah melakukan pembunuhan!
Tidak! Aku hanya  menolong dan membantunya keluar dari penderitaan yang sekian tahun dideritanya. 
 
Tapi kau telah membunuhnya. Kau kejam. Kau  kejam...kejam…kejam…! 

Tubuhnya tiba-tiba gemetar. John lalu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Di sampingnya, tangis istri Jack meledak di antara deru mesim dan raungan sirine ambulance yang berlari kencang.
***
“Halo, John. Ini Mike.”
 
“Hai, Mike. Apa  kabar. Kemana saja selama ini?”
 
“Aku baru pulang dari Jepang. Aku dengar kau sedang menghadapi masalah besar. Kau dituduh telah melakukan  pembunuhan terhadap pasienmu.”
 
“Aku tidak pernah membunuh pasienku. Aku bahkan merasa telah menolong mereka untuk keluar dari penderitaan yang telah sekian lama menggerogoti mereka. Semua pasien yang meminta bantuanku, sudah tak mampu lagi melawan penyakitnya. Mereka rela. Dan tentu sebagai dokter, aku  tak dapat  menolak. Aku harus menolong mereka semampuku.”
 
“Tapi yang kau lakukan itu merupakan tindakan pembunuhan. Apakah itu diatur dalam undang-undang atau tidak, tidak soal. Yang pasti itu merupakan tindakan yang tidak berprikemanusiaan.”
 
“Menurutku justru euthanasia pasif merupakan tindakan yang tidak berperikemanusiaan. Kita membiarkan pasien pergi begitu saja. Menyuruh mereka menjalani penderitaannya sekian lama sampai mereka mati. Apakah tidak sebaiknya kita mempercepat saja kematiannya, agar pasien tidak perlu berlama-lama menanggung  penderitaan.”
 
“Tapi euthanasia pasif masih memberikan peluang hidup kepada mereka, bahkan terkadang membawa orang pada kesembuhan. Aku tahu ada beberapa penyakit, seperti kanker akut, bukan hanya  membuat pertahanan tubuh rapuh, tapi juga melemahkan pertahanan mental seseorang. Nah, justru karena pertahan fisik mereka telah rapuh, maka kewajiban kita bagaimana agar pertahan mental mereka juga tidak menjadi rapuh.” 
 
“Tapi itu bukan urusan kita. Itu urusan rohaniawan. Kita hanya mengobati dengan kecanggihan teknologi. Kalau tidak sanggup, apa lagi yang harus kita lakukan. Membiarkan mereka menderita sekian lama? Rasanya aku tak sanggup melihat mereka menderita dan mengemis-mengemis kepadaku untuk segera dibantu mengakhiri hidupnya. Ya, aku merasa begitu berat untuk menolaknya.”
 
“Urusan rohaniawan, katamu. Tapi, kita juga dapat memberikan pertahanan mental itu dengan logika dan argumen kedokteran yang digabung dengan pengetahuan agama yang kita miliki. Apakah ini tidak lebih baik. Kita memberikan pencerahan agar jiwa mereka sedikit tenteram. Bisa saja mereka akan merasa tidak sakit dan siapa tahu mereka benar-benar akan sembuh. 
 
Karena perintah ke otak mereka semuanya positif untuk sembuh. Otomatis DNA dalam tubuh mereka akan memproduksi enzim yang mungkin saja dapat  membunuh virus atau apa saja yang menyebabkan penyakit mereka. Itukan bisa saja terjadi. Ini dunia sobat. Segala sesuatunya bisa saja terjadi tanpa kita sadari.”
 
“Tapi sekali lagi, aku tidak tega....”
 
“Apakah kau juga tega melihat mereka harus kehilangan nyawa dengan tubuh menggelepar dan mata yang melotot, seakan takut roh pergi meninggalkan tubuhnya?” Mike tiba-tiba memotong, “Kau tega  menyaksikan  semua  itu  terjadi  di hadapanmu? Aku heran.”
 
Sejenak John terdiam. Gagang telepon dipindahkanya ke sebelah kiri telinganya. Ia mengusap wajahnya dan menarik nafas panjang. 
 
“Tapi semua yang kulakukan itu karena rasa kasihan melihat penderitaan mereka. Aku berpikir, apakah mereka tidak sebaiknya mengakhiri hidup daripada harus menanggung penderitaan?”
 
“Ya. Aku tahu. Tapi tindakanmu itu tidak tepat. Kau telah menjadi algojo bagi orang lain. Mengapa tidak melakukan konsultasi dengan agamawan yang mengetahui banyak tentang kematian. Setidaknya dapat memberikan sedikit pencerahan agar jiwa mereka sedikit lebih tenteram. Malah terkadang karena nasehat tersebut, pasien dapat berjiwa besar dan bahkan di antaranya terkadang  ada yang sembuh.”
 
“Ah, sudahlah. Kali lain kita dapat mendiskusikan masalah ini. Ok. Sampai jumpa.” 
 
”Klak.” 
 
John  mendengus. Ia masih bimbang. Menurutnya kematian tidak relevan dengan agama. Mereka toh tidak merasa takut. Mereka  beragama, tapi tak seorang pun yang mau mengkonsultasikan tentang kematian mereka. Ketika melihat kematian, mereka malah siap menghadapinya.

***
Suatu malam yang dingin. Sesosok bayangan menyelinap ke dalam kamarnya dan berusaha memasang masker ke wajahnya. John terkejut dan meronta. Mereka pun bergelut. Namun, dengan sigap bayangan itu membuka klep tabung gas monoksida yang berada di tangannya.
 
Seketika John terbangun. Tubuhnya penuh keringat. Nafasnya tersengal-sengal. Pandangannya menebar ke seluruh sudut kamar. Dan di keremangan, ia melihat tubuh istrinya terlentang dengan masker di wajahnya. Sepucuk surat tergeletak di sisinya….

Suamiku…. Kau selalu menolong orang dengan alasan, karena mereka mengidap penyakit yang membuat mereka sangat menderita. Tapi, kau tak mampu menolong diriku. Bertahun-tahun aku begitu tersiksa dan menderita melihat kau menjadi malaikat maut bagi sesamamu. Tapi aku tak perlu pertolonganmu. Biarlah aku yang menolong diriku sendiri….

 Lourens

Oke
Makassar, awal kesepian 2002

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar